Rabu, 04 Maret 2009

Selasa, 03 Maret 2009

Selasa, 10 Februari 2009

IMLEK NAN MERAH


IMLEK NAN MERAH (Foto dan teks : Panji Prianggoro)
Tanun baru Imlek atau sin chia selalu identik dengan warna merah menyala. merah identik dengan keberuntungan.
Kehidupan beragama dan berbudaya kaum tiong hoa kembali bergeliat setelah kebijkan presiden Gusdur pada saat itu menghapuskan
banyak peraturan yang diskriminatif dan oportunis. kini mereka dapat tersenyum kembali, kini mereka dapat menikmati kebebasan beragama dan berbudaya lagi.
kebungkaman dan ketertindasan kini telah lepas. Bagaimanapun mereka juga makhluk ciptaan Tuhan. dan yang terpenting mereka juga bangsa Indonesia, sesungguhnya
tidak ada yang membedakan kita kecuali faktor fisik semata. dan fisik Manusia adalah mutlak ciptaan Sang Kuasa.

GARA GARA UANG





SEMUA SUKA UANG
Dari Anak-anak sampai dengan orang tua suka uang, dari orang miskin papa sampai dengan orang kaya raya suka uang, baik pria maupun wanita suka uang.
UANG BUKAN SEGALANYA TAPI SEGALANYA BISA DIPEROLEH DENGAN UANG
OH UANG.. UANG.. UANG..

Kamis, 22 Januari 2009

Tarif Hemat Kereta Ekonomi







Tarif Hemat Kereta Ekonomi

Kereta api kelas Ekonomi, transportasi massal yang cepat, murah dan meriah. Hidup di kota megapolitan, menjadi komuter, dan mengais rezeki di kota Jakarta, memang memerlukan biaya dan waktu yang harus efisien serta efektif, oleh karena itu moda transportasi ini menjadi pilihan tepat dan cepat yang menjadi pilihan bagi masyarakat yang tinggal di lingkar luar wilayah Jakarta. Tarif yang murah dan waktu tempuh yang cepat menjadi alasan bagi mereka memilih kereta kelas ekonomi jurusan Rangkas Bitung – Tanah Abang PP. bukan hanya murah tetapi bisa bebas biaya dan bebas keringat alias GRATIS… taruhannya nyawa memang, tersengat aliran listrik atau terjatuh dari kereta menjadi risiko yang harus dipertaruhkan demi harga tiket sebesar dua sampai tiga ribu perak sekali jalan, namun ternyata bukan gratislah alasan utama mereka berani mempertaruhkan nyawa mereka di rel kereta api, tetapi ruang kereta api yang telah penuh sesak, dan ketepatan waktulah yang membuat mereka berani berdiri di pintu dan jendela kereta, bersandar di lokomotif kereta, bahkan sampai duduk di atap gerbong kereta, sungguh tragis memang, gemerlap kota Jakarta telah menyihir siapa saja untuk singgah kesana meskipun taruhannya nyawa untuk mencapainya…

Foto & Teks

Panji Prianggoro

Rabu, 14 Januari 2009

Rabu, 07 Januari 2009